Toko Pasutri

10/02/13

Ini Dia Daftar Biaya Premarital Medical Check Up

0 komentar
Salah satu pertanyaan yang penting untuk dijawab sebelum melakukan premarital check up adalah, berapa biayanya? Mahal atau murah sebenarnya sangat relatif, namun harga layanan ini memang bebeda-beda di setiap klinik atau rumah sakit.

Pengalaman beberapa pembaca detikHealth yang pernah atau hendak melakukan premarital check up juga menunjukkan rentang harga yang sangat variatif. Salah satu faktor yang menentukan mahal atau murahnya biaya adalah jenis paket yang ditawarkan.

Beberapa kutipan dari pengalaman para pembaca adalah sebagai berikut, seperti yang disampaikan melalui twitter, dan ditulis pada Rabu (16/1/2013).

Wulandari:
"RS Awal Bros Bekasi, Wanita Rp 1.560.000, Pria Rp 600.000"

Ningsih:
"Sudah pernah cek di Lab Cito Tegal. Berdua habis Rp 1,2 juta. Tapi bisa lebih mahal tergantung paket yg diambil"

Ella:
"Pernah, biayanya sekitar 1,5 jt *kalo ga slh, soalnya uda 2 taun yg lalu* di Lab Parahita"

Jelita:
"Bulan Mei tahun lalu sblm menikah, saya dan calon suami periksa di Prodia Lab, biaya Rp. 2.600.000 (saya 1,6 & calon suami 1 jt)"

Daftar harga yang diterima detikHealth memang tidak jauh dari angka tersebut. Total biaya premarital check up di Laboratorium Klinik Prodia Jakarta adalah Rp 2.791.000 dengan rincian Rp 1.035.000 untuk laki-laki dan Rp 1.756.000 untuk perempuan.

Daftar pemeriksaan yang termasuk dalam paket premarital check up di Laboratorium Klinik Prodia adalah sebagai berikut.
  • Hematologi Rutin
  • Gambaran darah tepi
  • Analisis Hb HPLC
  • Badan Inklusi HbH
  • Golongan Darah A, B , O
  • Urine Rutin
  • Glukosa Puasa
  • HBsAg
  • VDRL/RPR
  • Anti-Rubella IgG )*
  • Anti-Toxoplasma IgG )*
  • Anti-CMV IgG )*
Ket: )* hanya untuk perempuan

Sebagai pembanding, biaya premarital check up di Brawijaya Women and Children Hospital seperti dikutip dari situs resminya adalah Rp 700.000 untuk laki-laki dan Rp 1.400.000 untuk perempuan.

Daftar pemeriksaan yang termasuk dalam paket tersebut adalah sebagai berikut:
  • Medical Officer Check & Review
  • Internist Check & Review
  • Photo Torax
Laboratorium Services:
  • Haematology (Hb, RBC, Diff Count, ESR, Platelet, MCV, MCHC, Abo & Rh)
  • Bio Blood Chemistry:
Cerelogy Review (VDRL)
  • Urine Test
  • EKG Test
  • Hepatitis B Test
  • Peripheral Blood Smear
  • Breakfast
Tes tambahan untuk laki-laki:
  • HIV Test
  • Faeces Test
Tes tambahan untuk perempuan:
  • HIV Test
  • Faeces Test
  • Thin Prep
  • Pap's Smear
Mahal atau tidak tentu relatif, tergantung kemampuan dan kondisi keuangan masing-masing. Yang jelas, asal sebanding dengan manfaatnya di kemudian hari rasanya tidak berlebihan untuk menganggarkan pemeriksaan ini. Banyak pilihan, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

09/02/13

Akan Tes Kesehatan Pranikah? Ini Waktu Paling Tepat

0 komentar
Anda akan segera menikah? Meski sibuk menyiapkan pesta dengan segala pernak-perniknya, jangan lupa melakukan cek kesehatan pranikah ya. Nah, kapan sebaiknya Anda melakukan pengecekan?

"Idealnya 6 bulan (sebelum hari pernikahan), maksudnya agar kalau ada kelainan seperti hepatitis, infeksi, TBC, bisa memberi waktu ke pasangan untuk disembuhkan dulu," ujar dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, saat dihubungi detikHealth.

Seperti disebut dr Frizar, idealnya pemeriksaan dilakukan 6 bulan sebelum menikah. Namun tentunya ukuran ideal ini sangatlah fleksibel. Tes ini bisa dilakukan calon pengantin kapan pun sebelum mereka menggelar penikahan. Yang tak kalah penting, lakukanlah tes ini saat Anda dan pasangan merasa sudah siap. "1 Bulan juga cukup," imbuh dr Frizar.

Nah, bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan, maka bisa dilakukan tindakan. Jika penyakit itu bisa disembuhkan, maka pengobatan bisa segera dilakukan atau dilanjutkan setelah menikah. Selain itu dengan adanya faktor risiko pada penyakit atau masalah tertentu, maka upaya pencegahan bisa dilakukan.

Bagi calon pengantin perempuan, lakukanlah pemeriksaan ini saat tidak sedang menstruasi. Anda bisa menunggu 3-5 hari sesudah menstruasi untuk menghindari adanya kontaminasi darah di urine.

Jadi, Anda para calon pengantin kapan akan melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah? Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

08/02/13

Penyakit Ini Berpotensi 'Menghalangi' Pernikahan

0 komentar
Ada yang berpendapat jatuh cinta itu takdir, namun menikah adalah pilihan. Karena meski sudah direncanakan sedemikian rupa, namun pernikahan bisa saja gagal. Penyebabnya banyak, salah satunya bila kedua calon pengantin membawa gen thalasemia.

Menurut dr M. Nurhadi Rahman, Sp.OG., thalassemia adalah penyakit genetik. Apabila kedua calon pengantin merupakan pembawa gen (carrier) maka beberapa dokter menganjurkan agar pernikahan dibatalkan.

Alasannya, jika sudah ketahuan sama-sama carrier thalassemia tapi tetap ngotot menikah, dikhawatirkan dampaknya akan dirasakan oleh keturunan mereka, kecuali jika hanya salah satu pihak saja yang diketahui sebagai carrier. Setidaknya thalassemia minor masih tak perlu terlalu dikhawatirkan bila dibandingkan dengan thalassemia mayor.

Namun berdasarkan pengalaman dokter yang berpraktik di RS Sardjito dan Jogja International Hospital ini, penyakit yang tak dapat disembuhkan tersebut tak sepenuhnya menghalangi pasangan untuk membatalkan pernikahannya. Karena sebenarnya peluang keturunan dari calon pengantin ini untuk menderita thalassemia mayor (jika kedua orang tua adalah carrier) hanyalah sebesar 25 persen.

"Tapi pasangan berani nggak mengambil risiko yang 25 persen itu? Ya asalkan setelah check-up pasangan mau dikonseling secara teratur dan tahu kondisi yang akan dihadapi anaknya mungkin penanganan dini dapat diupayakan," ujar dr Nurhadi saat dihubungi detikHealth.

"Kalaupun sudah dikonseling terus, belum tentu anak pertama yang pasti kena
thalassemia. Bisa jadi anak kedua atau ketiga dan seterusnya. Yang jelas risiko itu pasti ada," lanjutnya.

Hanya saja karena kecilnya angka pasangan yang menjalani cek pranikah di Yogyakarta (dalam 6 bulan kira-kira hanya ada 1 pasangan), maka penyakit semacam ini baru bisa diketahui setelah sang anak divonis mengidap thalassemia.

Ironisnya lagi, sebagian besar anak penderita thalassemia berasal dari keluarga kurang mampu. Padahal layaknya pasien penyakit ginjal yang harus cuci darah, penderita thalassemia pun harus terus menjalani transfusi darah setiap 2-3 minggu sekali sepanjang hidup mereka. Hal itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Ada juga penyakit atau gangguan kesehatan lain yang dapat mempengaruhi rencana pernikahan pasangan misalnya infeksi tokso, rubella dan CMV.

"Kalau tokso, dari 100 orang mungkin hanya 3 orang yang mengidap infeksi semacam ini. Tapi sekali lagi apa mau jadi yang 3 persen itu? Padahal kalau kena infeksi dari virus kayak tokso itu anak kan bisa keterbelakangan mental. Begitu juga kalau anak kena rubella, mereka bisa tuli, bisu," ungkap dr Nurhadi.

Jika hal ini diketahui lewat cek kesehatan pranikah, pernikahan masih bisa dilakukan. Hanya saja setelah menikah, hubungan seksual lebih baik dilakukan dengan menggunakan kondom atau alat kontrasepsi lainnya untuk mencegah kehamilan.

"Yang penting jangan hamil dulu. Setelah sembuh, baru bisa hamil," sarannya.

Begitu pun halnya dengan penyakit kelamin. Uniknya, dr Nurhadi justru banyak menemukan kasus pasangan yang batal menikah karena salah satu pasangan ketahuan memiliki penyakit ini.

"Padahal penyakit kelamin kan pasti diperoleh dari hubungan seksual, nggak mungkin dari makanan atau sumber lainnya. Jadi akhirnya timbul kecurigaan darimana calon pasangan memperoleh penyakit itu dan pernah berhubungan seksual dengan siapa saja," tutur dr Nurhadi.

Kendati bisa disembuhkan, rata-rata pasangan jadi enggan meneruskan rencana pernikahan setelah salah satu pihak terbukti mengidap penyakit kelamin.

Sayangnya untuk kasus penyakit HIV, hingga kini dr Nurhadi belum menemukan laboratorium atau rumah sakit yang menyediakan tes darah untuk HIV dalam paket cek kesehatan pranikah.

"Ya kalau mau tahu harus nambah check-up sendiri, untuk HIV-nya," tukasnya.

dr Nurhadi menambahkan calon pengantin di Yogyakarta dapat memperoleh paket cek kesehatan pranikah di sejumlah tempat seperti laboratorium Prodia dan Hilab, termasuk Jogja International Hospital dimana dr Nurhadi bertugas. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

07/02/13

Ini yang Harus Diperhatikan Sebelum Tes Kesehatan Pranikah

0 komentar
Layaknya tes kesehatan umum, sebelum melakukan tes kesehatan pra nikah juga ada beberapa syarat yang perlu dipersiapkan. Apa saja?

Premarital check up atau tes kesehatan pranikah pada dasarnya hampir sama dengan tes kesehatan lainnya. Hanya saja waktunya dilakukan menjelang hari pernikahan dan hasilnya tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri, melainkan juga pada pasangan dan calon keturunan kelak.

Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum tes kesehatan pra nikah?

"Puasa untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol," tutur dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, saat dihubungi detikHealth.

Sebelum melakukan tes kesehatan pra nikah, kedua pasangan harus berpuasa selama 10 hingga 12 jam, tapi masih diperbolehkan minum air putih. Ditambah lagi bagi wanita, sebaiknya tidak melakukan tes saat sedang menstruasi.

"Kalau untuk haid, takutnya ada kontaminasi darah di urine. Tapi itu sebenarnya bisa diakali dengan urine pancar tengah atau pakai alat," jelas dr Frizar lebih lanjut.

Melakukan tes kesehatan saat sedang menstruasi bisa membuat urine terkontaminasi dengan darah. Hal ini bisa membuat salah diagnosis pada tes urine.

Kondisi seperti ini dirasakan langsung oleh seorang wanita bernama Wulan (25 tahun). Akhir Desember lalu ia dan pasangan melakukan tes kesehatan pra nikah di sebuah laboratorium klinik. Saat itu dia sedang menstruasi, meski sudah hari-hari terakhir.

Petugas laboratorium sempat menanyakan perihal tersebut dan sampel urinenya pun ditandai dengan huruf 'M', yang artinya kurang lebih sedang menstruasi.

"Ternyata hasilnya saya ada Hburia (hemoglobinuria atau kondisi yang membuat terdeteksi hemoglobin dalam darah). Agak shock dan saya mulai googling itu penyakit apa. Karena takut, akhirnya check ulang di rumah sakit pas haid sudah selesai. Tes urine dan darah lagi dan Alhamdulillah hasilnya negatif. Tapi ongkosnya jadi boros karena harus ambil sampel darah dan urine ulang," tutur Wulan.

Jadi sebelum melakukan tes kesehatan pranikah, sebaiknya dipersiapkan baik-baik. Agar tidak memberatkan, puasa bisa dilakukan sejak malam hari, mulai dari pukul 10 malam hingga 8 pagi.

Untuk pemeriksaan gula darah, setelah mengambil sampel darah puasa, biasanya kedua pasangan juga akan diminta kembali untuk melakukan pengambilan sampel darah 2 jam setelah makan. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

06/02/13

Cek Kesehatan Pranikah, 'Investasi' Masa Depan

0 komentar
Mencegah lebih baik daripada mengobati, lagipula biaya pencegahan tentu lebih murah ketimbang pengobatan. Namun masih ada juga beberapa orang yang enggan memeriksakan diri sejak dini untuk mengetahui adanya risiko penyakit.

Hal ini juga berlaku untuk premarital medical check up. Beberapa orang ada yang sengaja tidak melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah dengan alasan biayanya mahal. Memang biayanya bisa dibilang relatif mahal karena berada dalam kisaran jutaan rupiah.

Misalnya harga yang dipatok di Laboratorium Klinik Prodia Jakarta untuk sepasang calon pengantin adalah Rp 2.791.000, dengan rincian Rp 1.035.000 untuk pria dan Rp 1.756.000 untuk wanita. Pemeriksaan ini mencakup tes hemoglobin rutin, gambaran darah tepi, analisis Hb HPLC, golongan darah dan rhesus, urine rutin, glukosa puasa, HBsAg, VDRL/RPR, anti rubella IgG, anti toxoplasma IgG dan anti CMV IgG.

Khusus untuk pria tidak perlu menjalani anti rubella IgG, anti toxoplasma IgG dan anti CMV IgG sehingga harganya lebih murah. Ketiga pemeriksaan ini ditujukan untuk kondisi yang mengancam janin dalam kandungan. Harga pre marital check up ini bisa bervariasi antar daerah, sehingga bisa saja harga di luar Jakarta lebih murah.

"Jika pemeriksaannya hanya dilakukan untuk item-item tertentu juga bisa dan bisa jadi lebih murah, tapi masuknya bukan paket premarital check up, tapi pemeriksaan lab sesuai permintaan," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth seperti ditulis Rabu, (16/1/2013).

Harga di Prodia Jakarta ini tentu berbeda dengan beberapa tempat lain yang juga menyediakan layanan pre marital check up. Misalnya laboratorium Cito di Tegal mematok harga sekitar Rp 1,3 jutaan untuk sepasang calon pengantin. Dari penelusuran detikHealth, kisaran harga untuk melakukan kesehatan sebelum menikah memang cukup bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Entah apa yang menjadi perbedaan harga ini. Tampaknya tiap penyedia layanan memiliki standar pelayanan dan biayanya sendiri. Jadi sebelum memutuskan, pasangan sebaiknya berkonsultasi dengan teman atau kenalan untuk mencari penyedia layanan yang berkualitas dengan harga yang sesuai. Akan lebih bagus lagi jika minta saran dari dokter.

"Kalau masalah harga memang beda-beda jika dibandingkan tempat lain," tutur Reskia Dwi Lestari, Marketing Communication Laboratorium Klinik Prodia. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

05/02/13

Pemeriksaan Sperma & Sel Telur Sebelum Nikah Itu Juga Penting Lho

0 komentar
Hampir semua orang yang menikah tentu ingin memiliki anak. Namun ada hal-hal yang membuat peluang untuk segera memiliki anak antara pasangan yang satu dengan yang lain tidak sama. Untuk itu pemeriksaan sperma dan sel telur perlu juga dilakukan sebelum menikah.

"Menurut saya (pemeriksaan sperma) penting, karena bisa saja dia nggak ada sperma, berarti nggak bisa menghamili dong. Karena yang menentukan kehamilan salah satunya sperma," ujar dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, saat dihubungi detikHealth.

dr Maria Sukmawaty Hernan juga berpendapat senada. Saat dihubungi detikHealth beberapa waktu lalu dr Maria mengatakan sebaiknya setiap pasangan baik laki-laki maupun perempuan memeriksakan kesehatan reproduksinya untuk mengetahui apakah ada masalah dalam organ reproduksinya.

"Sehingga jika nanti terjadi sesuatu seperti susah memiliki anak atau ada masalah pada kandungannya, pasangan tidak saling menyalahkan satu sama lain," kata dr Maria.

Pemeriksaan sperma pada calon pengantin laki-laki penting untuk mengetahui apakah spermanya aktif dan jumlahnya banyak.

Sedangkan pada perempuan perlu dilakukan pemeriksaan ovarium untuk mengetahui sel telurnya. Perlu dilakukan juga cek alergi sperma. Sebab pada beberapa perempuan ada yang mengalami hal ini. Alergi sperma atau seminal plasma hypersensitivity adalah alergi terhadap air mani pada perempuan dengan gejala gatal-gatal, bengkak dan kesulitan bernapas. Dalam kasus yang parah, dapat pula menyebabkan kematian. Kondisi serius ini harus dihindari dengan menggunakan kondom atau menjalani terapi desensitisasi.

Calon pengantin perempuan perlu juga melakukan cek hormon yang meliputi kadar estrogen, estradiol, tiroksin, FSH, dan LH. Hormon-hormon inilah yang akan mempengaruhi seseorang cepat atau tidak untuk hamil dan untuk pematangan sel telur.

Selain itu mengukur kadar panggul apakah sempit atau tidak yang akan mempengaruhi proses melahirkan pun tak kalah penting. Demikian pula dengan pemeriksaan bentuk rahim.

Menurut dr Frizar, pemeriksaan kesehatan reproduksi sebelum nikah merupakan salah satu upaya menguji kesetiaan. Kesetiaan bisa dilihat apakah seorang perempuan akan tetap memutuskan menikahi pria yang sama meskipun pria itu mengalami kasus spermatozoa yang kurang (oligozoospermia) atau bahkan tak ditemukan sel sperma sama sekali (azoospermia). Demikian pula sebaliknya apakah seorang pria akan menikahi perempuan yang sama meskipun ada masalah dengan rahim perempuan tersebut.

"Yah ini menguji kesetiaan, apakah nantinya pasangan mau menerimanya," kata dr Frizar. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

04/02/13

Tes Kesehatan Pranikah, Penting Tapi Kerap Diabaikan

0 komentar
Kalau menurut orang-orang tua, memilih pasangan hidup perlu mempertimbangkan bibit, bebet dan bobotnya. Namun agaknya ada hal yang lebih penting, yaitu kondisi kesehatan masing-masing pasangan. Sayangnya masih banyak pasangan yang kurang begitu menganggapnya penting.

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah biasa disebut dengan premarital medical check up. Tujuannya untuk mendeteksi adanya penyakit atau gangguan yang bisa menular kepada pasangan atau membahayakan bayi yang dikandung nantinya. Walau tujuannya baik, banyak orang yang masih skeptis.

"Bagi calon pasangan yang mau menikah masih ada ketakutan akan membuat pernikahan jadi batal. Ini yang masih jadi kendala. Padahal kalau mau terbuka, mengetahui penyakit yang ditularkan dan diturunkan agar masa depan keluarga terjamin kebahagiannya," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth.

Ketakutan ini sebenarnya terlalu berlebihan sebab menemukan kelainan dan penyakit pada pasangan bukan berarti lantas membuat pernikahan menjadi batal. Dengan mengetahuinya sejak dini, pasangan dapat mempersiapkan diri terhadap kemungkinan yang terjadi. Kalau kejadian buruk justru terjadi setelah menikah, tentu kekecewaan yang dialami pasangan akan lebih besar.

Taruh saja penyakit genetik seperti Thalasemia. Apabila kedua orang tua ternyata merupakan pembawa gen carier, maka anak yang dikandung memiliki kemungkinan 25% mengidap Thalasemia. Penyakit ini membuat sel darah merah cepat rusak sehingga penderitanya harus menjalani transfusi darah setiap bulan.

Masalah juga bisa muncul apabila pasangan memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda. Bayi yang dikandung dari pasangan ini bisa jadi memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda dengan ibunya. Apabila terjadi, maka bayi akan dianggap benda asing dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh ibu.

Ada juga bermacam penyakit menular seksual yang tidak disadari menghuni salah satu pasangan. Walau kemungkinan munculnya penyakit-penyakit ini terhitung kecil, tidak ada salahnya meminimalisir risiko.

Di Indonesia sendiri, kesadaran masyarakat akan pentingnya pre marital check up belum begitu tinggi. Walau demikian, nampaknya jumlah pasangan yang menjalaninya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

"Sejak kami mulai melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pre marital check up di tahun 2009, jumlah pasien kami sampai saat ini mengalami kenaikan. Mungkin jumlahnya masih belum terlalu signifikan, tapi trennya terus naik," imbuh Astri. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

03/02/13

Yuk Deteksi Risiko Cacat Janin dan Keguguran Sebelum Nikah

0 komentar
Salah satu tujuan cek kesehatan pranikah adalah mendeteksi hal-hal yang bisa menyebabkan cacat janin atau keguguran. Dengan mengetahui kondisi calon orang tua sejak dini, maka kemungkinan keguguran di masa kehamilan atau lahirnya bayi cacat bisa diminimalkan.

dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, mengatakan pemeriksaan TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus tipe 2) penting dilakukan sebelum menikah. Sebab TORCH sering menjadi penyebab sulitnya punya anak, keguguran, maupun penyebab kecacatan pada anak.

"Gangguan darah, TORCH. Itu bisa dideteksi dari premarital check up juga. Ada juga karena pasien hiperkoagulasi, darahnya cepat membeku. Itu juga susah punya anak," kata dr Frizar memaparkan kemungkinan penyebab anak lahir cacat dan keguguran. Hal itu disampaikannya saat dihubungi detikHealth.

TORCH adalah sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari perempuan hamil kepada bayinya. Perempuan yang terinfeksi selama masa kehamilan memiliki risiko tinggi menularkankan ke janin yang bisa berakibat fatal.

Dr. Liliane Grangeot-Keros seorang pakar imunologi dari Universite Paris Sud II menuturkan infeksi TORCH ini meliputi:

Toksoplasma
Infeksi umum didunia yang disebabkan oleh parasit protozoa Toxoplasma gondii. Infeksi ini ditularkan dari hewan ke manusia atau melalui makanan dan air yang sudah tercemar. Parasit bisa ditularkan dari ibu ke plasenta yang menyebabkan kecacatan. Sekitar 5-10 persen akan mengalami keguguran spontan, 8-10 persen mengakibatkan bayi lahir dengan kerusakan mata atau otak yang parah dan 10-13 persen bayi yang selamat mengalami gangguan penglihatan.

Infeksi rubella
Infeksi ini juga dikenal sebagai campak jerman. Rubella pada trimester pertama kehamilan sekitar 90 persen mengalami risiko kelainan bawaan seperti buta, tuli, penyakit jantung, keterbelakangan mental dan bahkan keguguran.

Cytomegalovirus (CMV)
Infeksi ini merupakan keluarga virus herpes dan termasuk salah satu jenis yang paling banyak tersebar di dunia. Penyakit ini ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan. Akibat yang timbul sekitar 10 persen mengalami komplikasi dan 80-90 persen mengalami gangguan pendengaran, penglihatan dan berbagai variasi keterbelakangan mental.

Virus herpes simplex (HSV)
Infeksi ini ada 2 tipe virus yaitu herpes simplex virus 1 (HSV 1) dan herpes simplex virus (HSV 2). Umumnya ditularkan melalui kontak sosial pada masa anak-anak atau kontak seksual pada orang dewasa. Kedua tipe HSV ini bisa mengakibatkan gangguan parah pada janin atau bayi lahir dan bahkan berakibat fatal.

Tes TORCH penting untuk perempuan yang memiliki risiko tinggi dengan kriteria:
  1. Perempuan yang gemar mengonsumsi sayuran mentah (salad atau karedok)
  2. Perempuan yang senang mengonsumsi daging yang tidak dimasak sempurna
  3. Perempuan yang suka memelihara binatang seperti kucing, anjing tapi tidak memperhatikan kebersihan binatang peliharaannya.
Calon ibu yang mempunyai kadar gula tinggi, apabila tidak dikontrol juga dapat berisiko cacat pada janinnya. Selain itu ibu hamil dengan kadar gula tinggi juga berisiko mengalami komplikasi kehamilan seperti janin besar, gangguan pertumbuhan pada janin, proses kelahiran yang sulit atau janin meninggal di dalam kandungan.

Jika dari hasil pemeriksaan diketahui ada yang tidak beres, maka bisa dilakukan tindakan pengobatan sebelum pasangan tersebut memutuskan untuk memiliki anak. Selain itu bukankah pencegahan lebih baik dan lebih murah? Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

02/02/13

Hasil Cek Kesehatan Pranikah Buruk? Survei: 59% Tetap Nikah, 15% Batal

0 komentar
Premarital medical check up atau tes kesehatan sebelum menikah masih dianggap sebagai hal yang sensitif. Hasil buruk pada pemeriksaan ini tak jarang memaksa calon pasangan untuk membatalkan pernikahan. Bagaimana menurut pembaca detikHealth?

Survei sederhana yang dilakukan detikHealth memunculkan berbagai pendapat soal hasil buruk dalam premarital check up. Tanpa membedakan status pernikahan para responden, 59,3 persen memilih tetap melanjutkan pernikahan, 15,4 persen batal, 6,6 persen ditunda dan 18,7 persen ragu-ragu.

Tetap menikah betatapun buruknya hasil pemeriksaan kesehatan tentu bukan pilihan yang mudah. Hanya kekuatan cinta yang begitu besar yang membuat sebagian besar pembaca detikHealth untuk memilih jawaban tetap menikah dengan segala konsekuensinya.

"Tetap nikah, suport pasangan selama menjalani pengobatan meningkatkan semangat untuk sembuh," komentar Ratih, salah seorang pembaca detikHealth memilih jawaban untuk tetap menikah seperti disampaikan lewat akun twitter @Atheeh.

Namun untuk kondisi dan jenis gangguan kesehatan tertentu, tetap menikah bukan pilihan yang bijak. Thalasemia misalnya, jika kedua pasangan merupakan pembawa sifat thalasemia maka dianjurkan untuk tidak menikah untuk menghindari thalasemia mayor pada anaknya.

Risiko yang harus ditanggung kadang terlalu besar, bukan hanya bagi kedua pasangan tetapi juga keturunan yang nantinya akan dihasilkan. Sebagai contoh jika anak hasil pernikahan mengidap thalasemia mayor, maka seumur hidup harus tergantung pada transfusi darah yang tentunya tidak murah.

Oleh karenanya, beberapa responden memilih untuk membatalkan pernikahan dengan pertimbangan-pertimbangan semacam itu. Untuk kasus lain yang masih bisa disembuhkan, sebagian pembaca memilih untuk pending atau menunda pernikahan sambil mengupayakan pengobatan.

Keputusan untuk batal atau tetap menikah ketika hasil premarital check up tidak bagus memang dilematis. Manusia memang tidak bisa memilih dengan siapa akan jatuh cinta, namun perlu dipahami bahwa penyakit dan cacat genetik kadang tidak mengenal kompromi. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

01/02/13

Survei: 87% Anggap Perlu Cek Kesehatan Sebelum Nikah, 11% Tak Perlu

0 komentar
Tidak semua orang menganggap penting tes kesehatan sebelum menikah alias premarital medical check up. Beberapa orang menganggapnya tidak penting karena lebih baik menerima calon pasangan apa adanya. Bagaimana menurut pembaca detikHealth?

Survei kecil-kecilan yang dilakukan detikHealth menunjukkan bahwa sebagian besar pembaca, yakni 87 persen menganggap premarital check up penting untuk dilakukan. Hanya 11 persen yang menganggap tidak perlu, sementara 2 persen sisanya tidak tahu.

Alasan pembaca menilai perlu melakukan premarital check up antara lain untuk mendeteksi adanya penyakit yang bisa menular ke pasangan atau bahkan keturunannya. Jika sudah terdeteksi, maka akan lebih mudah untuk dicegah ataupun justru disembuhkan.

"Penting, untuk mendeteksi penyakit di kedua pasangan, gak lucu dong kalo anak kena penyakit menular ortunya," komentar Iqbal, salah seorang pembaca detikHealth lewat akun twitternya @Jsyfl1113.

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah yang dianggap penting oleh para pembaca detikHealth antara lain TORCH. Termasuk di dalamnya adalah infeksi Toxoplasmosis, Other (syphilis), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex virus (HSV).

Sebagian pembaca yang menganggap premarital check up tidak perlu dilakukan juga memiliki alasan tersendiri. Kebanyakan lebih memilih untuk menerima pasangan apa adanya, termasuk gangguan dan berbagai keterbatasan yang menyangkut kesehatannya.

"Perlu ga perlu.. Jaga perasaan pasangan & keluarga.. N komitmen 'menerima apa adanya' bukan ada apanya," tulis Windi, salah seorang pembaca detikHealth yang sepertinya lebih mementingkan perasaan calon pasangan dan keluarganya dibanding risiko bila tidak melakukan check up.

Sementara itu, sebagian kecil pembaca detikHealth yang menyampaikan pendapatnya mengaku bimbang menilai perlu tidaknya pemeriksaan sebelum menikah. Umumnya merasa ada perlunya, tetapi untuk melaksanakannya butuh banyak pertimbangan termasuk untuk menjaga perasaan calong pasangan.

"Kl qt yakin calon qt sehat2 aja keknya ga prlu cek lg," tulis salah seorang pembaca yang masih bimbang, Yulia. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Kesehatan Pranikah. Info Seputar Ibu Hamil, Anak, Bayi dan Balita...