Toko Pasutri

31/01/13

Agar Tak 'Tularkan' Penyakit ke Bayi, Wanita Harus Lulus Tes Ini

0 komentar
Bagi beberapa orang cinta itu buta, tapi jangan sampai menimbulkan penyesalan nantinya. Walau sudah saling mencintai dan mengerti satu sama lain, pasangan yang tengah dilanda asmara yang berniat menikah sebaiknya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Kondisi kesehatan perlu diperiksa untuk mengetahui adanya gangguan yang mengancam keturunan atau pasangan yang dicintai. Masalahnya, ada beberapa penyakit yang bisa ditularkan dari hubungan suami istri, namun si pengidap tak menyadari dan menularkan ke pasangannya.

Tak hanya itu, ada beberapa penyakit genetik yang tersembunyi dan baru menimbulkan petaka bagi keturunan pasangan. Misalnya penyakit thalasemia dan perbedaan rhesus darah. Ada juga infeksi mikroba yang tak terlihat dari permukaan namun berbahaya bagi janin di dalam rahim.

Itulah sebabnya mengapa pria ataupun wanita yang hendak melangsungkan sebaiknya melakukan pre marital check up atau pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Secara garis besar, jenis pemeriksaan untuk pria maupun wanita sama, hanya saja wanita mendapat beberapa tambahan.

"Pada wanita pemeriksaannya lebih banyak karena untuk mengetahui adanya kemungkinan infeksi yang bisa berbahaya bagi janin. Pemeriksaan ini disebut pemeriksaan TORCH," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth.

TORCH adalah singkatan dari Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes, yaitu gangguan kehamilan yang disebabkan virus dan bisa membahayakan janin. Seorang wanita bisa terinfeksi virus ini lewat berbagai macam hal seperti memelihara kucing atau anjing, sering makan sayuran mentah atau steak tidak matang dan pernah melakukan kontak dengan penderita.

Pemeriksaan TORCH sendiri terdiri atas 4 macam pemeriksaan, yaitu:

1. Anti Rubella
Infeksi Rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan kelainan pada janin. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan, maka risiko terjadinya kelainan adalah 50 persen. Jika infeksi terjadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25 persen

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan tubuh sebelum hamil. Jika ternyata belum punya kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.

2. Anti Toxoplasma
Penyakit toxoplasma disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondi. Gejalanya mirip gejala influenza, timbul rasa lelah, demam dan umumnya tidak menimbulkan masalah. Wanita hamil yang terinfeksi Toxoplasma bisa menyebabkan keguguran, lahir mati atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.

Pada Toxoplasmosis bawaan, gejalanya dapat muncul setelah dewasa berupa kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis atau radang otak. Untuk mengetahui keberadaan parasit ini, diperlukan pemeriksaan laboratorium Anti Toxoplasma IgG.

3. Anti CMV
Penyakit CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo yang serumpun dengan virus Herpes. Virus ini dapat tinggal tanpa menunjukkan gejala di dalam tubuh.

Jika ibu hamil terinfeksi, janin yang dikandung berisiko tertular sehingga mengalami gangguan seperti pembesaran hati, sakit kuning, pengapuran otak, tuli, retardasi mental dan lain-lain. Untuk mendeteksi adanya virus ini, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium Anti CMV

4. Anti HSV
Infeksi herpes pada kelamin disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini menyebar melalui percikan air ludah atau melalui kontak seksual. Sekitar 80 persen infeksi ini masuk ke dalam tubuh bayi lewat mata, kulit, mulut dan saluran pernapasan bayi saat persalinan.

Sekitar 50 persen virus HSV akan menyebar ke seluruh tubuh, sehingga menyerang hati, kelenjar adrenal dan organ tubuh lain. Biasanya terjadi saat bayi berusia 9 -11 hari. Angka kematian pada bayi yang terinfeksi adalah 80 persen apabila tidak diobati. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

30/01/13

Halo Calon Pengantin Pria, Sudahkan Anda Lulus Tes-tes Ini?

0 komentar
Ibarat membeli kucing di dalam karung, demikian pula halnya membina rumah tangga tanpa didahului premarital medical check up atau pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Siapa tahu diri sendiri atau pasangan memiliki gangguan kesehatan yang bisa berakibat buruk bagi bayi atau pasangan.

"Calon pengantin perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi masing-masing. Siapa tahu walau sudah kenal bertahun-tahun, ternyata ada kondisi yang berbahaya bagi keturunan atau pasangan," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth.

Kedua pasangan yang akan menikah perlu menjalani beberapa pemeriksaan. Walau ada beberapa jenis, sebenarnya prosedurnya singkat dan cukup sederhana. Pasangan hanya diambil sampel darahnya lalu diuji di laboratorium untuk mengetahui kelainan atau penyakit yang berpotensi bahaya.

Pada pria, pemeriksaan yang dilakukan relatif lebih sedikit ketimbang wanita. Wanita membutuhkan pemeriksaan tambahan untuk menjamin bayi yang dikandungnya tidak terinfeksi parasit yang mungkin menyerang ibunya. Tes premarital check up yang diperlukan pria antara lain adalah:

1. Hematologi Rutin
Bertujuan mengetahui cukup atau tidaknya jumlah sel darah, mengetahui adanya penyakit darah, seperti thalasemia, anemia, kanker darah, infeksi, kecenderungan pembekuan darah dan lain-lain. Yang diperiksa adalah kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, jenis sel darah putih dan laju endap darah.

2. Analisa Hemoglobin
Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Tujuannya untuk mengetahui adanya penyakit darah, terutama Thalassemia. Thalassemia adalah penyakit di mana sel darah merah berumur sangat pendek dibanding sel darah merah normal. Penderita harus menjalani transfusi darah sekali sebulan untuk mendapat pasokan sel darah merah.

Penyakit ini adalah penyakit keturunan. Orang yang memiliki gen carier Thalassemia sebaiknya jangan menikah dengan sesama carier sebab ada kemungkinan anaknya akan mengalami Thalassemia mayor seperti yang disebutkan di atas. Sedangkan pemilik gen carier tidak mengalami gejala apapun.

3. Urine Rutin
Pemeriksaan ini berfungsi untuk memantau fungsi ginjal, penyakit ginjal, kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih, batu ginjal atau tumor.

4. Golongan Darah A, B, O dan Rhesus
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui golongan darah berdasarkan sistem ABO dan Rhesus. Bagi pasangan yang memiliki golongan darah dengan Rhesus yang berbeda, yaitu positif dengan negatif, janin yang dikandung bisa terancam.

Apabila janin ternyata memiliki Rhesus yang berbeda dengan milik ibunya, maka ia akan dianggap sebagai benda asing dan sistem kekebalan tubuh ibu akan menyerang janin. Dokter bisa memberikan obat untuk mengatasi kelainan rhesus ini, namun risiko pada bayi tetap ada.

5. Gula darah
Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kemungkinan penyakit diabetes melitus atau kencing manis. Ibu hamil yang memiliki diabetes tak terkontrol dapat menimbulkan masalah bagi ibu maupun janinnya. Pada pria, pemeriksaan ini juga perlu untuk mengetahui kondisi fisik secara keseluruhan. Apalagi keturunan pengidap diabetes juga berisiko mengidap diabetes.

6. HBsAg
Tes ini dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi virus Hepatitis B yang dapat menimbulkan sirosis atau kerusakan jaringan hati dan kanker hati. Virus ini dapat menular lewat hubungan seksual, ciuman, kontak langsung dengan darah penderita, dan dari ibu ke janin di kandungan maupun saat persalinan.

Penanda awal adanya virus ini adalah dengan mengukur HBsAg. Segera konsultasikan dengan dokter apabila pemeriksaan menemukan hasilnya positif. Dokter dapat memberikan vaksinasi sebelum terlambat.

7. VDRL/RPR
VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) dan RPR (Rapid Plasma Reagin) adalah tes untuk mendeteksi penyakit sifilis. Penyakit ini berbahaya sebab bisa menyerang hampir semua organ tubuh, termasuk jantung dan susunan saraf otak. Janin dalam rahim ibu yang tertular sifilis dapat mengalami keguguran, lahir mati atau hidup dengan gejala sifilis di kemudian hari. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

29/01/13

Ini Risiko yang Mengintai Jika Tes Kesehatan Pranikah Diabaikan

0 komentar
Sebelum menikah, calon pengantin biasanya disibukkan dengan segala macam persiapan, mulai dari acara akad nikah hingga resepsi. Namun belum banyak yang melakukan tes kesehatan pranikah, padahal berbagai risiko kesehatan mengintai bila Anda mengabaikannya.

"Premarital check up manfaatnya yang paling ekstrem mencegah penularan penyakit antar pasangan, mendeteksi sifat pembawa kelainan bawaan pada kedua pasangan dan menentukan sejauh mana kebugaran masing-masing pasangan," jelas dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, saat dihubungi detikHealth.

Tes kesehatan sebelum pernikahan bisa mendeteksi kemungkinan berbagai penyakit menular, menahun, genetik yang diturunkan seperti:
  1. Diabetes Mellitus
  2. Kelainan jantung bawaan
  3. Hipertensi
  4. Hepatitis B
  5. HIV/AIDS
  6. TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus tipe 2).
  7. Penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis, herpes, gonorrhea (kencing nanah).
  8. Ketidakcocokkan golongan darah ABO dan rhesus
  9. Kelainan darah seperti thalassemia.
  10. Kelainan genetik dan kromosom, termasuk buta warna.
"Penyakit-penyakit tersebut tentunya sangat mempengaruhi kesehatan pasangan dan keturunannya kelak. Jadi pemeriksaan pranikah ini penting untuk bisa mendapatkan keturunan yang sehat," jelas dr Frizar lebih lanjut.

Berikut beberapa risiko penyakit yang bisa menular pada pasangan atau menular pada keturunan:
  1. Penyakit seperti diabetes melitus, kelainan jantung dan hipertensi, kelainan darah cenderung diturunkan. Calon ibu yang mempunyai kadar gula tinggi, bila tidak dikontrol dapat berisiko cacat pada janinnya atau mengalami komplikasi kehamilan seperti janin besar, gangguan pertumbuhan pada janin, proses kelahiran yang sulit atau janin meninggal di dalam kandungan. Tapi bila kondisi ini diketahui sejak awal, dapat dilakukan perubahan gaya hidup dan bila perlu dilakukan pengobatan agar kadar gula darah terkendali dan komplikasi dapat dicegah atau dihindari.
  2. Penyakit infeksi seperti hepatitis B juga bisa ditularkan ibu kepada janinnya atau dari sang suami kepada istrinya. Sebagian besar PMS termasuk sifilis, herpes, gonorrhea juga bisa mengakibatkan terjadinya kecacatan pada janin.
  3. Ketidakcocokkan rhesus juga sangat mempengaruhi janin, seperti janin mengalami anemia, jaundice (kuning) dan komplikasi lainnya. Ketidakcocokkan rhesus ini sering terjadi pada pasangan berbeda ras.
  4. TORCH (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus dan Herpes simplex) adalah sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari perempuan hamil kepada bayinya. Perempuan yang terinfeksi memiliki risiko tinggi menularkan ke janin yang bisa berakibat fatal.
  5. Bila kedua pasangan membawa sifat thalassemia (thalassemia minor), maka besar kemungkinan keturunannya thalassemia mayor.
Orang yang menderita thalassemia mayor akan mengalami kekurangan darah akibat sel darahnya mudah rusak, jadi yang harus dilakukan adalah transfusi darah seumur hidup karena thalassemia tidak dapat disembuhkan.

"Dengan tes kesehatan, pasangan bisa mengetahui penyakit-penyakit tersebut lebih awal, sehingga nantinya bisa dilakukan usaha pengobatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," jelas dr Frizar. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Buktikan Cinta Anda dengan Cek Kesehatan Pranikah

0 komentar
Untuk membuktikan cinta pada pasangannya, banyak orang yang rela melakukan apa saja, termasuk hal-hal nekat yang tidak masuk akal. Sebelum menikah, ada satu lagi pembuktian cinta yang perlu dilakukan, yakni cek kesehatan pranikah.

Premarital medical check up atau cek kesehatan pranikah merupakan salah satu tahap dalam persiapan pernikahan yang tidak boleh dilewati. Banyak konflik dalam pernikahan yang mungkin berujung pada perceraian diakibatkan oleh masalah kesehatan, kesuburan dan keturunan, yang tidak dipersiapkan sebelumnya.

"Setiap pasangan yang akan menikah butuh keterbukaan tentang kesehatan. Premarital check up bisa jadi pembuktian cinta pada pasangan, saling terbuka masalah status kesehatan masing-masing," ujar dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter kandungan dari RS Pusat Pertamina, saat dihubungi detikHealth.

Menurut dr Frizar, manfaat utama melakukan tes kesehatan pranikah antara lain:
  1. Mencegah penularan penyakit antar pasangan
  2. Mendeteksi sifat pembawa kelainan bawaan pada kedua pasangan
  3. Menentukan sejauh mana kebugaran masing-masing pasangan.
"Kita nggak pernah tahu penyakit dari pasangan. Misal HIV, hepatitis. Ini kejadian sama pasien saya, suaminya HIV karena dulunya pecandu narkoba. Ya nangis-nangis dia, tapi sudah terlanjur nikah 1 tahun," tambahnya.

Pada dasarnya, tes kesehatan bisa dilakukan kapan saja, tak harus menunggu sebelum menikah. Yang membuatnya berbeda, hasil tes kesehatan pranikah tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri, melainkan juga pasangan dan calon anak di kemudian hari.

Seperti dicontohkan dr Frizar, bila seorang perempuan thalassemia minor (membawa sifat thalassemia) dan laki-laki thalassemia minor menikah, maka keturunannya bisa menjadi thalassemia mayor yang membutuhkan transfusi darah seumur hidup. Padahal, tidak banyak orang yang menyadari bahwa dirinya membawa sifat thalassemia.

"Ya ada konsekuensinya, mau tidak menerima pasangan kalau ternyata ada penyakit? Siap apa belum? Ini bisa jadi pembuktian cinta, apa masih mau menerima atau tidak," tutup dr Frizar. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Kesehatan Pranikah. Info Seputar Ibu Hamil, Anak, Bayi dan Balita...